29 April 2014
Kursus Bahasa Inggris di IALF Jakarta
Posting ini terinspirasi dari banyaknya trafik di tulisan saya berjudul Wall Street - Tempat Kursus Orang Berduit. Well, nampaknya cukup banyak yang lagi kepoin tempat kursus satu ini :D Berhubung ada komentar yang menanyakan opsi tempat kursus selain WSI, gak ada salahnya saya bahas di sini berdasarkan pengalaman pribadi.
Sebelumnya tolong dicatat ya, saya nggak banyak ikut kursus, jadi gak bisa kasih banyak referensi. Saya baru dua kali ikut kursus bahasa inggris yang legitimate dan saya anggap worth. Pertama di CILACS UII Yogyakarta waktu masih jadi bachelor student, itu pun terbatas hanya materi Academic Writing dan short term saja, sekitar dua bulan. Kedua di IALF Jakarta waktu saya tengah mempersiapkan tes IELTS, gak lama setelah kepoin WSI dan di-PHP-in karena ngeliat harganya yang hampir bikin semaput. Nah, tempat kursus kedua ini yang mau saya bahas di posting kali ini.
20 November 2013
Metamorfosis Anak Manja
Beginilah nasib hidup di perantauan...
"Kok intronya lebay vi?"
Nggak apa-apa, sekali-kali! :D
Hidup di negeri orang menuntut kita jadi lebih mandiri, nggak boleh manja! Itu yang saya rasakan selama tiga bulan pertama tinggal di Belanda. Definisi mandiri di sini bukan mandi sendiri loh ya... melainkan kita dituntut jadi serba-bisa.
"Maksudnya vi?"
Hmm... begini misalnya,
Satu. Mahasiswa atau mahasiswi yang sekolah di Belanda (atau mungkin di negara lainnya) ketika pulang nanti saya jamin pasti jadi pintar masak. Atau mungkin malah jadi koki, who knows? :D Ini lantaran di belahan bumi sini enggak ada yang namanya warteg, warung padang, angkringan, dan teman-temannya. Kalaupun ada restoran, harganya selangit! Jadi opsi terbaik bagi mereka untuk berdamai dengan kantung mahasiswanya masing-masing adalah dengan belanja beras, sayuran dan lauk pauk di supermarket, lalu masak sendiri. Nah, di sinilah letak salah satu guilty pleasure saya karena saya demen nyoba-nyoba resep dari internet, alhasil perut makin buncit :(
Dua. Setelah pulang nanti, ada kemungkinan ukuran betis mereka bertambah besar :D Nggak seperti kehidupan di Indonesia yang serba manja, mau ke pasar yang jaraknya dua ratus meter saja musti naik motor, di sini satu-satunya kendaraan yang bisa diandalkan adalah sepeda. Ya, sepeda "onthel". Mau kerenan dikit ya pake sepeda "sport", tapi tetep aja wujudnya sepeda. Untuk jarak jauh baru pakai public transport seperti bus, metro dan kereta. Kebayang kan? dua tahun di sini rajin nyepeda dan jalan kaki, nggak heran nanti kalau betis tambah gede.
Tiga. "Kalau sakit gimana vi?". Nah, ini yang agak repot. Selama tiga bulan di sini, alhamdulillah saya baru sekali kena sakit itu pun sakit ringan, flu. Tapi jangan pernah meremehkan flu. Saya punya pengalaman buruk dengan penyakit yang satu ini, lagi-lagi karena manjanya saya ketika masih di kampung halaman dulu. Di Indonesia, sakit sedikit saja saya lari ke dokter. Dokter dengan gampangnya ngasih antibiotik. Pernah satu ketika badan saya jadi resisten sama antibiotik, minum dua pak antibiotik (total 10 hari), bukannya flu sembuh malah menjalar jadi Bronkhitis. Lain halnya di Belanda sini, ketika mengalami sakit ringan seperti flu orang-orang cenderung disarankan untuk "menyembuhkan dirinya sendiri". Lantas ketika beberapa minggu yang lalu saya kena flu dan nggak punya stok obat, saya hanya bisa bikin ramuan tradisional (hasil searching internet) dari air jahe, teh hijau, madu, dan jeruk nipis. Minum rutin dua kali sehari, dan tak disangka-sangka flu saya justru sembuh dalam lima hari. Luar biasa kalau kata saya mah, biasanya juga dua minggu baru sembuh sekalinya kena pilek :D
Udah, segini dulu aja. Nanti disambung lagi! :)
"Kok intronya lebay vi?"
Nggak apa-apa, sekali-kali! :D
Hidup di negeri orang menuntut kita jadi lebih mandiri, nggak boleh manja! Itu yang saya rasakan selama tiga bulan pertama tinggal di Belanda. Definisi mandiri di sini bukan mandi sendiri loh ya... melainkan kita dituntut jadi serba-bisa.
"Maksudnya vi?"
Hmm... begini misalnya,
Satu. Mahasiswa atau mahasiswi yang sekolah di Belanda (atau mungkin di negara lainnya) ketika pulang nanti saya jamin pasti jadi pintar masak. Atau mungkin malah jadi koki, who knows? :D Ini lantaran di belahan bumi sini enggak ada yang namanya warteg, warung padang, angkringan, dan teman-temannya. Kalaupun ada restoran, harganya selangit! Jadi opsi terbaik bagi mereka untuk berdamai dengan kantung mahasiswanya masing-masing adalah dengan belanja beras, sayuran dan lauk pauk di supermarket, lalu masak sendiri. Nah, di sinilah letak salah satu guilty pleasure saya karena saya demen nyoba-nyoba resep dari internet, alhasil perut makin buncit :(
Dua. Setelah pulang nanti, ada kemungkinan ukuran betis mereka bertambah besar :D Nggak seperti kehidupan di Indonesia yang serba manja, mau ke pasar yang jaraknya dua ratus meter saja musti naik motor, di sini satu-satunya kendaraan yang bisa diandalkan adalah sepeda. Ya, sepeda "onthel". Mau kerenan dikit ya pake sepeda "sport", tapi tetep aja wujudnya sepeda. Untuk jarak jauh baru pakai public transport seperti bus, metro dan kereta. Kebayang kan? dua tahun di sini rajin nyepeda dan jalan kaki, nggak heran nanti kalau betis tambah gede.
Tiga. "Kalau sakit gimana vi?". Nah, ini yang agak repot. Selama tiga bulan di sini, alhamdulillah saya baru sekali kena sakit itu pun sakit ringan, flu. Tapi jangan pernah meremehkan flu. Saya punya pengalaman buruk dengan penyakit yang satu ini, lagi-lagi karena manjanya saya ketika masih di kampung halaman dulu. Di Indonesia, sakit sedikit saja saya lari ke dokter. Dokter dengan gampangnya ngasih antibiotik. Pernah satu ketika badan saya jadi resisten sama antibiotik, minum dua pak antibiotik (total 10 hari), bukannya flu sembuh malah menjalar jadi Bronkhitis. Lain halnya di Belanda sini, ketika mengalami sakit ringan seperti flu orang-orang cenderung disarankan untuk "menyembuhkan dirinya sendiri". Lantas ketika beberapa minggu yang lalu saya kena flu dan nggak punya stok obat, saya hanya bisa bikin ramuan tradisional (hasil searching internet) dari air jahe, teh hijau, madu, dan jeruk nipis. Minum rutin dua kali sehari, dan tak disangka-sangka flu saya justru sembuh dalam lima hari. Luar biasa kalau kata saya mah, biasanya juga dua minggu baru sembuh sekalinya kena pilek :D
Udah, segini dulu aja. Nanti disambung lagi! :)
07 November 2013
Wageningen... Finally!!
Saya hampir menitikkan air mata ketika menemukan brosur tua 'Wageningen University' di atas. Brosur itu sudah empat tahun lebih tersimpan rapi di rak buku saya. Artinya, sudah empat tahun lebih pula saya menyimpan harapan dan impian untuk bisa kuliah di WU, Belanda.
Impian itu dimulai ketika salah satu dosen saya di FKT UGM, Mas Dwiko panggilannya, menceritakan pengalamannya selama kuliah di WU. Serasa tersihir, sejak saat itulah saya berangan-angan untuk bisa menuntut ilmu di universitas ini. Apalagi di bidang yang saya tekuni, Agriculture & Forestry, WU bisa dikatakan selalu menempati posisi teratas di daftar perguruan tinggi terbaik di seluruh dunia. Hingga saat ini pun, untuk bidang tersebut WU masih menempati peringkat kedua setelah UC Davis berdasarkan QS World University Rankings 2013.
And now here I am, living my dream, after four years of waiting, trying, failing and trying again..
Meskipun saat ini saya menekuni bidang lain yaitu Environmental Sciences, it is just as amazing as what I have expected. One milestone in my life has finally been reached.. :)
02 October 2013
Espresso
Bagi tipikal 'the last minute person' seperti saya, kopi udah jadi barang wajib, temen deket atau apalah.. terutama pas lagi dikejar deadline tugas seperti sekarang.
Saya suka sekali sama kopi. Kalau Raditya Dika bisa pacarin mie instan, mungkin saya mau pacarin kopi ini dan saya jamin bisa jadi pacar yang setia. Kenapa nggak? Loh.. buktinya biarpun disakiti sama pacar saya (baca: kopi) saya tetep suka dan nggak mau lepas darinya. Padahal perut saya sudah luluh lantak dibuatnya. Ahh.. lebay amat sih? Ealah.. belum tau ya rasanya kena maag kronis, kumat tiga hari berturut-turut sampai nungging-nungging nahan sakitnya?
Tapi ya begitulah.. saya tetap setia sama pacar saya ini. Dia begitu mempesona.
Nah.. dari berbagai jenis kopi, salah satu favorit saya adalah espresso. Kan pahit?? Ember.. tapi efeknya nendang! Jadi, kalau lagi dihimpit banyak tugas kuliah dan terpaksa harus ngeronda, espresso ini bisa jadi pacar yang sangat bisa diandalkan. Tenggak secangkir, melek sampai pagi.
So,
Saya suka sekali sama kopi. Kalau Raditya Dika bisa pacarin mie instan, mungkin saya mau pacarin kopi ini dan saya jamin bisa jadi pacar yang setia. Kenapa nggak? Loh.. buktinya biarpun disakiti sama pacar saya (baca: kopi) saya tetep suka dan nggak mau lepas darinya. Padahal perut saya sudah luluh lantak dibuatnya. Ahh.. lebay amat sih? Ealah.. belum tau ya rasanya kena maag kronis, kumat tiga hari berturut-turut sampai nungging-nungging nahan sakitnya?
Tapi ya begitulah.. saya tetap setia sama pacar saya ini. Dia begitu mempesona.
Nah.. dari berbagai jenis kopi, salah satu favorit saya adalah espresso. Kan pahit?? Ember.. tapi efeknya nendang! Jadi, kalau lagi dihimpit banyak tugas kuliah dan terpaksa harus ngeronda, espresso ini bisa jadi pacar yang sangat bisa diandalkan. Tenggak secangkir, melek sampai pagi.
So,
Espresso...
You have no idea how much I love you.
But tonight, I have finished my whole assignments. Now if you're excuse, please please let me take a rest...
You have no idea how much I love you.
But tonight, I have finished my whole assignments. Now if you're excuse, please please let me take a rest...
-efek insomnia-
16 April 2013
Java Jazz Festival 2013
Kalau boleh dibilang, ini pertama kalinya saya nonton 'konser'. Apaaa?? Iyaaa, bener! Bukannya saya nggak tertarik, saya dulu sempat beberapa kali menonton pertunjukan musik sama beruang saya ketika masih di Jogja. Tapi paling pol ya nonton live accoustic saja di kafe kesayangan kami, tempatnya di sekitar Bundaran UGM.
Setelah pindah ke Jakarta, berkali-kali saya ingin nonton konser band-band favorit saya, sebut saja Incubus dan The Script yang sempat mampir konser di Jakarta. Namun keinginan tersebut seringkali urung karena hal sepele: gak punya temen nonton. Pernah sekali waktu saya mengajak seorang teman untuk nonton konser, spontan dia jawab, "Kalau dibayarin aku mau..!!"
#$%@*#$^... -___-"
Setelah pindah ke Jakarta, berkali-kali saya ingin nonton konser band-band favorit saya, sebut saja Incubus dan The Script yang sempat mampir konser di Jakarta. Namun keinginan tersebut seringkali urung karena hal sepele: gak punya temen nonton. Pernah sekali waktu saya mengajak seorang teman untuk nonton konser, spontan dia jawab, "Kalau dibayarin aku mau..!!"
#$%@*#$^... -___-"
Tag :
Catatan Harian,
Java Jazz Festival,
Musik,
Review
03 April 2013
Rekening PayPal Dibatasi
Belakangan saya punya masalah yang cukup menjengkelkan, rekening PayPal saya dibatasi. Apa maksudnya? Rekening PayPal yang dibatasi berarti tidak bisa melakukan hal-hal berikut: mengirim uang, menarik uang dari rekening, menutup rekening, menghapus kartu, menghapus rekening bank, dan mengirim pengembalian dana. Hal ini lumayan bikin frustasi, karena saya baru mengetahuinya saat hendak melakukan penarikan.
Berikut tampilan akun yang dibatasi ketika dibuka:
Berikut tampilan akun yang dibatasi ketika dibuka:
27 March 2012
Wall Street - Tempat Kursus Orang Berduit
Belakangan, saya kepengen daftar kursus Bahasa Inggris lagi karena merasa Bahasa Inggris saya masih acak adul. Malu dong, udah gede gini kalah sama anak SD jaman sekarang yang udah bisa cas cis cus ngomong linggis, eh... Inggris. Selain untuk meningkatkan kemampuan berbicara, saya berencana ikut kursus untuk persiapan tes IELTS.
Setelah browsing informasi di beberapa web, saya tertarik dengan salah satu lembaga kursus yang namanya Wall Street Institut, atau biasa disingkat WSI --> Cekidot gan!
Setelah browsing informasi di beberapa web, saya tertarik dengan salah satu lembaga kursus yang namanya Wall Street Institut, atau biasa disingkat WSI --> Cekidot gan!
19 March 2012
Blog (Oh...ini blog ya?)
Jadi, kadang-kadang aku bingung sendiri sama blog ini. Isinya ngaco. Kalau minjem istilahnya para penyanyi, nggak punya 'soul' - aish!
Satu ketika, aku tertarik membaca kembali isi blog ini. Setelah dibaca-baca lagi, satu kesimpulan aja, blog ini nggak jelas temanya. Arahnya kemana, apa yang dibahas, manfaatnya apa, nggak jelas blas. Kebanyakan sih malah jadi tempat nyampah (Nah...akhirnya ketemu temanya -tempat sampah- ckckck, ngelus dada!).
Susah juga ya kalau orang yang 'nggak pinter' nulis (udah gitu males pula) sok-sokan nulis blog hehehe. Eh tapi si penulis blog ini berharap lho... smoga ke depannya bisa bikin tulisan yang lebih baik dan bermanfaat bagi pembaca semua. Amiiiin...... :)
Satu ketika, aku tertarik membaca kembali isi blog ini. Setelah dibaca-baca lagi, satu kesimpulan aja, blog ini nggak jelas temanya. Arahnya kemana, apa yang dibahas, manfaatnya apa, nggak jelas blas. Kebanyakan sih malah jadi tempat nyampah (Nah...akhirnya ketemu temanya -tempat sampah- ckckck, ngelus dada!).
Susah juga ya kalau orang yang 'nggak pinter' nulis (udah gitu males pula) sok-sokan nulis blog hehehe. Eh tapi si penulis blog ini berharap lho... smoga ke depannya bisa bikin tulisan yang lebih baik dan bermanfaat bagi pembaca semua. Amiiiin...... :)
28 February 2012
Desperate Mary
Mary is drowning in her super tedious life. She has been thinking about something that could change her life. Something extraordinary that would make her feel special. Apparently, it leads her to make some changes on an unexpected object. Her hair.
“Make it Red!” she said to the Stylist.
“Are you sure?” the Stylist seems a little bit worried because Mary has literally a dark hair color. “There is another option, if you care to consider. Light brown would seem flawless on you”.
“No no no no... I have tried that one, so boring!”
Is it just me, or Mary is being really really desperate right now, that she force the Stylist to dye her hair in- wait, Red? A couple seconds then,
19 January 2012
Posting Gaje (Gak Jelas)
Beberapa hari terakhir terasa aneh, saya jadi gila kerja. Jadi heran obat doping macam apa yang mungkin tak sengaja masuk ke badan saya, rasanya semua pekerjaan ingin diselesaikan cepat-cepat. Biarpun begitu, kenapa ya pekerjaan seperti ngga ada selesai-selesainya? Andai saja satu hari itu lamanya 48 jam. Walaupun punya jurus seribu bayangan seperti Naruto - karakter utama di film favorit saya (ketika jamannya gila jepang-jepangan) - yang bisa menggandakan diri, rasanya ngga akan selesai juga. Karena begitu satu pekerjaan selesai, datanglah yang lainnya. Mati satu tumbuh sejuta. Hmmm... Jangan lebay ah!
Tapi sungguh, belakangan ini makin menggila rasanya. Misalnya saja tadi malam, melek sampai pagi hari alias begadang (minjam istilahnya Bang Rhoma). Berkat nyeruput satu cangkir kopi, alhasil sukses melek sampai jam 5 pagi ngerjain proposal. Huah!
05 October 2011
Woman on the Logged-Over Wood
I stunned when I first saw this painting at an exhibition held in my office...
This painting was very much alive! I bet you could guess the story behind...
03 September 2011
Things I Love About Jogja
Satu hal lagi yang aku suka dari Jogja adalah... disini aku bisa ngopy TV series sebanyak-banyaknya. Hahaa...
Ada salah satu warnet favorit di Jogja. Lokasinya di daerah Babarsari, sebelah selatan STT Nas. Mengapa favorit? Warnet ini menyediakan koleksi film, TV series, dan mp3 yang super lengkap! Kalian bisa temukan film atau mp3 dari jaman baheula (favoritnya enyak babe jaman dulu kali ya?) sampai yang belum dirilis di Indo.... tinggal copas aja! hehehe (jiwa pembajak sudah tertanam kuat saudara-saudara, biar sudah). Daripada musti donlot sampai berjam-jam hanya untuk satu episode, disini lima belas menit bisa dapat 2 season utuh.... mangstaaaabb!
Berhubung aku penggila TV series, mudik tahun ini aku panen TV series. Lumayan buat temen begadang di Jakarta nanti.... :D
24 June 2011
i-cafe
Jogja memang tak ada matinya. Begitu kangennya sama kota ini hingga liburan kemarin, 2-5 Juni 2011, jauh-jauh hari aku sudah pesan tiket pulang ke Jogja. Hehe
Hmmm...
Aku punya kebiasaan baru setiap pulang ke Jogja. Untuk menghabiskan malam minggu disana, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi i-cafe, sebuah cafe yang berlokasi di Indraloka Homestay and Resto, Jalan Cik Di Tiro No.18 Yogyakarta.
Tag :
Akustik,
i-cafe,
indraloka resto,
Jawacoustic,
Jogja,
Musik,
Review,
Yogyakarta
24 May 2011
Teliti Sebelum Membeli
Sementara banyak orang di luar sana yang saling membodohkan satu sama lain, untuk saat ini (dan mungkin hingga beberapa hari ke depan), aku akan sibuk membodohkan diriku sendiri.
Bodohnya kelewatan!
Bagaimana tidak?
"Belajar dari pengalaman" nampaknya menjadi satu nasehat yang sulit aku terapkan pada diriku sendiri. Kebiasaanku ini sudah tidak bisa ditolerir lagi. Ya... kebiasaan melakukan apapun tanpa berpikir panjang terlebih dulu. Termasuk dalam urusan membeli barang. Kebiasaan ini bahkan sudah tidak lagi menjadi sekedar 'kebiasaan'. Ini penyakit! dan penyakit ini sepertinya sudah terlanjur mendarah daging. Kalau tidak dirubah, lama-lama bisa membuatku kere. Dampaknya terlalu sadis, terutama pada isi dompet.
21 May 2011
First post!
OK. Waktu menunjukkan pukul 01.41 dan hingga saat ini aku masih belum bisa tidur. Sendirian.
Suasana kos belum sepi. Jam segini masih ada saja penghuni kos yang beraktivitas. Terdengar suara TV menyala di ruang tengah dan suara gebyar-gebyur orang mandi di kamar sebelah (aku sih berharap semoga yang mandi memang benar-benar orang, hehe).
Subscribe to:
Posts (Atom)



